Minggu, 07 Februari 2010

Keterbatasan Orang Tua


Keterbatasan Orang Tua

“Berbohong itu dosa nak...”

Orang tua selalu mengatakan hal itu ketika kita kecil. Namun, perkataan orang tua tidak konsisten lagi ketika mereka mengkondisikan berbohong menjadi kebiasaan. Hal ini terjadi pada anak bernama Hari yang memiliki orang tua yang selalu mengatur hidupnya dan selalu menuntutnya ini dan itu.

“Hari! Dimana kamu? Sama siapa? Ada acara apa? Kenapa pulang telat? Kamu ini goblok! Kamu tolol! Anak durhaka! Anak ga tau diri! Ngapain kamu main terus? Belajar! Tugas kamu Cuma belajar bukan main!!!! Kamu tu yah, ngelawan orang tua aja! Kamu berani yah bohongin orang tua! Orang tua itu selalu benar, anak selalu salah...jadi kamu gak usah ngelawan! Karena kamu itu selalu salah! Udah deh ngapain ikut kegiatan kaya gitu, masih goblok juga kamu!”

Kata-kata itu yang sering diterima Hari sejak ia kecil. Bayangkan, sudah sejak Hari SD, ia diperlakukan seperti itu hingga saat ini. Hari kini adalah seorang Mahasiswa yang pandai di salah satu Universitas Negeri. Ia seorang pemuda yang terlihat ceria, mudah bergaul, pandai, berbakat, namun siapa sangka ia memiliki jalan hidup penuh tekanan dari orang tua yang otoriter.

Hukuman yang diterima Hari, yaitu:

  1. Dicaci maki hingga kepala ingin pecah rasanya => Ini adalah resiko hukuman yang paling ringan dari yang lain.
  2. Diludahi
  3. Kepala ditenggelamkan dalam bak mandi
  4. Ditampar

Ehm-ehm...

Aduh, rasanya sakit perut waktu tahu hukuman yang Hari terima. Beruntung bagi kamu yang memiliki orang tua demokratis, yang tentunya pengertian, perhatian, dan mau mendengarkan pendapat anak dengan terbuka. Bayangkan jika memiliki orang tua seperti orang tua Hari.

Hari selalu bertanya dalam hati ketika orang tunya marah kepada. “Apa bener gw anak kandung mama papa? Apa ia mereka orang tua gw? Kenapa mereka memperlakukan gw kaya gini? Kenapa w jujur dicaci, w bohong juga dicaci? Apa yang harus gw lakukan agar mereka percaya dengan gw dan berhenti ngatur hidup gw? Gw udah dewasa, ga perlu terlalu diatur kaya gini. Kenapa mereka selalu memotong pembicaraan gw ketika gw ingin membela diri? Apa dengan mereka merasa mereka selalu benar baik buat gw? Kenapa gw gak bisa punya orang tua seperti teman-teman gw? Apa ini tanda sayang mereka ke gw? Kenapa rasa sayang mereka hanya diukur dari materi yang mereka berikan?”

Anak berbohong bukan karena mereka ingin, tapi karena mereka takut menerima apa yang akan terjadi ketika mereka jujur. Hari tidak pernah berbohong pada siapapun kecuali ORANG TUAnya sendiri. Bayangkan, orang tuanya sendiri.

Bagi orang tua, mungkin ada yang menganggap bahwa memarahi anak adalah cara yang tepat untuk membuat anak jera atau tidak mengulangi kesalahan. Namun, kejujuran seorang anak apakah harus dibalas dengan cacimaki?

Orang tua adalah orang yang pertama kali anak kenal, dekat, dan tahu semua tentang anak. Anak percaya bahwa orang tua akan melindunginya. Tapi, jika anak merasa ingin terbuka terhadap orang tua namun orang tua justru menolak dengan kata-kata kasar, apakah anak akan merasa terlindungi? Apakah anak akan merasa aman? Apakah anak akan JUJUR kepada orang tua?

Contohnya adalah Hari yang ketika SD ingin bermain dengan teman-temannya. Jika ingin bermain, ia selalu di jemput teman-temannya untuk bermain. Tapi, ibunya selalu melarangnya bermain. Ibunya selalu menyuruhnya belajar dan belajar. Padahal Hari sudah lelah dengan terus belajar. Di sekolah belajar dan sepulang sekolah pun harus belajar. Jika Hari membantah, hukuman Hari berlaku. Hal tersebut masih terus Hari rasakan hingga saat ini.

Suatu hari, Hari bermain dengan teman-teman SMPnya sepulang sekolah ke Mall terdekat. Ia hendak refreshing sebentar setelah sekolah. Hari ijin kepada ibunya dengan bilang kalau ia ada kerja kelompok dengan teman-teman sepulang sekolah. Hal ini Hari lakukan karena ibunya yang selalu memarahinya jika ia ingin bermain. Hari tidak mungkin bilang ia akan main. Jika bilang, hukuman berlaku.

Uniknya, jika Hari berbohong pasti ketahuan. Sepulang sekolah Hari melihat ibunya sudah bertolak pinggang, mata melotot, dan pipinya merah seperti sedang melihat mangsa yang hendak diterkam. Ternyata, tetangga Hari ada yang melihat Hari pergi ke Mall. Tetangganya itu kebetulan sedang ada perlu dengan ibunya Hari. Seperti halnya ibu-ibu kebanyakan, jika bertemu pasti ada saja yang dibicarakan termasuk membicarakan Hari yang sedang bermain di Mall bersama teman-temannya. -hukuman dimulai-.

Itu adalah awal Hari berbohong dan awal ibunya beralasan tidak mempercayainya lagi. Hari sakit hati sekali. Ia memendam hal ini belasan tahun lamanya sendirian hingga akhirnya ia mau bercerita pada orang lain, yaitu orang terdekat yang ia percaya. Air mata jatuh ketika ia mendapat perlakuan ibunya yang kasar jika ia melakukan kesalahan, hingga Hari mulai tak menjatuhkan air matanya lagi karena sudah terbiasa.

Hal yang dilakukan Hari yang menurut ibunya kesalahan, seringnya tidak masuk akal. Hari ingin ikut ekstrakurikuler adalah kesalahan. Hari ingin ikut paduan suara dan akan lomba di luar negeri adalah kesalahan. Hari ijin bermain dengan teman-teman ketika liburan panjang adalah kesalahan. Hari ingin menentukan jurusannya sendiri ketika masuk Perguruan Tinggi adalah kesalahan. Hari pulang larut malam karena macet adalah kesalahan. Dan lain sebagainya yang menurut saya bukan kesalahan tapi hal yang bisa dimaklumi dan diskusikan dengan baik.

Hari bosan, sejak dulu hingga ia menjadi mahasiswa kini, yang seharusnya ia mandiri tetap diperlakukan seperti anak-anak yang belum bisa mengatur hidupnya sendiri.

Mungkin Tuhan mentakdirkan Hari hidup mandiri karena jika ia dekat dengan orang tua Hari akan terus tertekan. Hari, sejak SMA tinggal berjauhan dari ayah dan ibunya. Mereka tinggal di kota yang berbeda dan berjauhan hingga saat ini.

Alasan mengapa Hari tidak ingin jujur pada ibunya jika ia akan mengisi liburan panjangnya dengan bermain bersama teman-teman adalah tak lain karena hukuman dan peraturan orang tua terus berlaku. Ia memilih tidak bilang daripada ia dilarang, diatur, dan dicaci.

Ayahnya keras dan terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ibunya pun lebih keras dari ayahnya. Hari selalu berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak ingin anaknya merasa tertekan seperti dirinya. Ia tidak ingin menjadi orang tua seperti ayah dan ibunya. Ia ingin menerapkan sistem demokrasi dalam keluarganya. Saya bangga dengan pemikiran Hari seperti ini. Bahkan ia bukanlah tipe orang pendendam meskipun orang tuanya selalu meninggalkan luka di hatinya.

Hari adalah orang yang cerdas. Meskipun ia hidup di bawah tekanan. Ia tidak diam dalam tekanan yang ada. Ia membuka dirinya diluar tekanan itu, ia mempelajari banyak hal.

Hari suka melakukan hal yang ia inginkan meskipun orang tua suka ikut campur dan merusak impiannya.

Orang tua Hari seperti angin. Angin yang sejuk, menimbulkan topan, puting beliung, dan tiba-tiba sejuk kembali. Sulit sekali memprediksi perubahan anginnya. Angin itu berubah sesuai kehendak mereka sendiri. Orang tua Hari, khususnya ibunya mudah terpengaruh perkataan orang lain yang membuat ia sering tidak percaya pada anaknya sendiri. Padahal, bagaimanapun anak, seharusnya orang tua tidak hanya mendengarkan perkataan orang lain tapi juga mendengarkan anaknya sendiri dengan tidak menghakimi terlebih dahulu.

Gengsi adalah hal utama yang orang tua Hari miliki. Hingga akhirnya, meskipun mereka melakukan aturan mereka karena sayang terhadap Hari, yang diterima Hari dan disampaikan orang tua tidak terlihat tujuan sebenarnya. Ini membuat Hari menyayangi orang tua karena mereka memberinya uang, bukan karena mereka menyayangi Hari dengan perhatian dan hal-hal yang diharapkan Hari. Sedih sekali jika mengetahui kisah Hari dan orang tuanya yang pasti sebenarnya sangat menyayanginya meskipun cara yang disampaikan tidak tepat.

Orang tua melakukan hal-hal terhadap anak didasari oleh pengalaman mereka. Kita tidak pernah tahu apa pengalaman yang dialami orang tua Hari hingga menerapkan pola asuh seperti itu. Namun, tetap saja setiap orang harus hidup dengan belajar dari pengalaman bukan hidup berdasarkan pengalaman yang ada. Karena pengalaman tidak semua bisa diterapkan di masa berikutnya bukan? Seperti pasir yang disaring dari kerikil yang ikut bercampur. Pengalaman pun disaring seperti pasir. Pengalaman tidak semuanya bisa diambil, tapi dipelajari.

Lalu, akan menjadi seperti apakah Hari di kehidupan selanjutnya?

Bagi yang memiliki orang tua seperti orang tua Hari, apakah yang akan Anda lakukan? Jika Anda adalah orang tua seperti orang tua Hari, apakah yang Anda pikirkan?

Anak adalah titipan Tuhan yang harus dipelihara, dibimbing, diajarkan, dan dijaga dengan baik hingga ia tumbuh dewasa dan mampu memilih jalan hidupnya sendiri. Tapi satu yang pasti ada di benak anak adalah untuk tidak menyalahkan orang tua.

Ada sebuah Kutipan dari Kristine Batasina G. tentang kamu dalam bukunya ‘Curhat Yuk!’ yang sahabat saya berikan kepada saya...

Kamu bukanlah apa kata orang.

Kamu bukanlah bagaimana yang terpancar dari wajah orangtuamu.

Kamu berharga.

Bahkan, tanpa prestasi atau keterampilanmu, kamu tetap berharga. Kelahiranmu ke dunia inilah yang menjadikan dirimu tak ternilai.

Kamu ada.

Kamu hidup.

Dan itu sudah cukup untuk memperjuangkan keadaanmu.

Jangan merasa rendah diri.

Tuhan tidak pernah membuat produk massal.

Dia membuatmu secara personal.

Buktinya, hanya ada satu Einstein di dunia ini.

Hanya ada satu daVinci.

Satu Beethoven.

Satu Bill Gates.

Dan hanya ada satu kamu.

Minggu, 7 Februari 2010

Continue reading...

Minggu, 31 Januari 2010

Perasaan Turia


“Jujurlah dengan perasaan kamu sendiri... Jangan hanya selalu memikirkan perasaan orang lain saja, tapi pikirkan juga perasaan kamu sendiri.” Kata itu selalu teringat dibenak. Sekian tahun aku hanyalah orang yang mengorbankan perasaanku sendiri. Akulah Turia.

Kata-kata itu adalah kata-kata dari seorang pangeran yang datang disaat Turia menangis kesakitan dengan perasaannya yang selalu saja tersakiti dengan keadaan disaat dirinya harus mengorbankan perasaannya sendiri.

Menjaga perasaan orang lain memang harus. Namun, jika harus menyakiti perasaan diri sendiri...itulah yang menyakitkan.

Kata-kata itu tidak mengubah Turia menjadi orang yang egois, tapi justru membuatnya lebih mengenali perasaannya sendiri dan perasaan orang lain.

Mengenali orang yang dihadapi & mengenali perasaannya,,, GREAT!

Tentu saja Turia tau bagaimana perasaannya dan dirinya. Jadi, ia tau bagaimana menghadapi setiap orang yang dihadapinya sekarang.

Teringat akan sebuah perkataan ketika orang sedang ingin melawan musuh secara cerdas. “Kenalilah lawan Anda!”...

Jika perasaan yang ingin di lawan? Kenalilah perasaan Anda, dan kendalikanlah perasaan Anda seperti yang Anda inginkan...

Intinya adalah...

Agar suatu waktu emosi tidak menggejolak dan meledak, kenalilah perasaan diri sendiri...

Turia berterima kasih kepada Tuhan dan pangeran yang telah membuatnya tersenyum kembali...

Turia merasa tenang dengan mengenali perasaannya sendiri...

Rabu, 27 Januari 2010


Continue reading...

“Hitam & Putih”







“Hitam & Putih

Hitam dan Putih. Begitulah seringnya terdengar beberapa orang menyebutkan sisi kehidupannya. Hitam ataukah putih.

Hitam digambarkan dengan kehidupan yang penuh kebencian, kejahatan, keburukan, kedengkian, dendam, dan sebagainya yang mungkin bisa dikategorikan dalam kategori ‘hitam’.

Putih digambarkan dengan kehidupan yang suci, bersih, dengan kebaikan, ketulusan, ikhlas, kehormatan, dan lain-lain yang memiliki kategori ‘putih’ yang jauh dari si ‘hitam’.

Kawan, bukankah Tuhan menciptakan warna bukan hanya putih dan hitam. Di bumi ini terdapat warna dasar yang dapat menghasilkan warna lain yang indah. Selain putih dan hitam, ada merah, biru, dan kuning. Jika dipadukan akan menghasilkan warna hijau, coklat, jingga, ungu, abu-abu, dan nila.

Warna-warna yang beragam tersebut mungkin bisa mewarnai kehidupan kita selain hanya putih dan hitam. Jadi inget sebuah iklan cat tembok yang menggambarkan bahwa hampa sekali jika kita tinggal di tempat yang hitam dan putih saja. Tapi dengan tempat yang memiliki warna-warna yang indah, pasti bisa menyenangkan sekali tinggal di sana.

Iklan itu pasti dibuat dengan pertimbangan yang baik dan ada maksud tertentu. Coba aja lihat iklan di jalan-jalan. Kalau iklan dipasang dengan warna yang hanya putih dan hitam, orang-orang pasti kurang tertarik membacanya. Tapi kalau diberi warna yang mencolok, maka secara spontan orang akan melihat. Apalagi ditambah cahaya lampu yang terang dan bagus. Wah, mata ini pasti tertarik untuk melihatnya.

Andaikan hidup tidak hanya digambarkan dengan hitam putih, tetapi dengan warna-warna yang beragam, akan indah sekali hidup ini.

Si hitam dan si putih sih pasti ada kan pada setiap manusia. Namun, ada isi dominan yang menguasai. Nah, itu semua kan bisa diberi warna oleh warna-warna lain yang menghiasi kehidupan agar lebih berwarna. Misal, orang baik yang tidak memiliki keceriaan (kuning), keberanian (merah), dan persahabatan (mejikuhibiniu), akan hampa sekali hidupnya. Begitu juga dengan si hitam. apakah ia hanya menjadi si hitam saja? Bodoh sekali jika hanya menjadi si hitam padahal hidupnya masih bisa berwarna tanpa harus menjadi si hitam saja.

Hahaha.... mungkin kawan tau apa maksud dari tulisan ini.

Hidup itu berwarna guys!

Jika kamu memiliki warna yang beragam,,,jangan sampai membiarkan warna itu pudar. Caranya ialah tetaplah mewarnai hidupmu dengan warna-warna yang ada dan beragam setiap harinya...

Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, dsb...

Aku juga menginginkan hidupku indah berwarna seperti pelangi yang muncul setelah hujan berhenti...

Rabu, 27 Januari 2010


Continue reading...

Kembalinya Turia




“Aku bagai burung yang hinggap dalam sangkar. Aku ingin terbang bebas mengelilingi dunia...

Kini aku terbang di luar sangkar, namun aku bagai burung terasing yang terbang tidak tahu arah. Hingga aku bertemu burung penuh pesona di luar sana................................................................”

“Akulah....Turia....”

Apakah kamu pernah merasakan, kamu memiliki kebebasan namun kamu tidak merasakan kebebasan itu? Apakah kamu pernah merasa terpenjara dalam perasaan yang menyakitkan dalam waktu yang lama? Apakah kamu pernah terbayang-bayang dengan pahitnya masa lalu?

Jika iya, mungkin kamu memiliki masa lalu seperti kisah Turia....

Turia adalah gadis yang memiliki kaceriaan di setiap harinya. Namun, berbeda ketika masa lalu yang menyakitkan membuat ia berperilaku seperti anak kecil. Selalu terbayang-bayang masa lalunya yang kelam itu. Ia pun menjadi takut menghadapi cinta.

Betapa buruknya masa-masa Turia setelah kejadian itu. Ia bukan hanya disakiti oleh perlakuan pria yang ia kasihi ketika itu, tapi ditinggalkan. Perlakuan yang membuat luka di hati Turia, terus membekas. Jika ingat kenangan kelam, Turia merasa seperti berada di ruangan gelap, hitam, dan sulit mencari sinar untuk dapat berjalan ke arah yang ia inginkan.

Akhirnya, Turia bertemu pria lain yang amat baik. Sungguh sabarnya pria itu menghadapi masa trauma Turia yang masih terbayang masa lalunya yang kelam.

“Entah memang tulus ataukah ada yang diinginkan pria itu dari Turia?” Itulah awal pikiran dibenak Turia terhadap pria itu.

Sungguh tidak menyenangkan jika kita terus dibayangi masa lalu yang menyakitkan. Namun, masa lalu akan terus mengikuti.

Itulah sepintas kisah Turia.

Kamu tahu, Turia kini menjalani kasih dengan pria yang baik terhadapnya setelah menjalani proses penyembuhan trauma yang cukup lama dengan dibantu pria itu.

Kamu pernah gak merasakan bahwa masa lalu mempengaruhi perilaku kita sekarang? Memang begitulah adanya yang terjadi. Seperti Turia yang butuh berbulan-bulan memulihkan dirinya dari luka yang dalam.

Masa lalu yang menghantui kita, mempengaruhi perilaku kini yang mungkin bukanlah perilaku yang kita inginkan. Bahkan membuat orang sekitar turut bersedih karenanya.

Kawan, bagi kamu yang memiliki masa lalu yang menyakitkan dengan seseorang, mungkin lebih menyakitkan dari kisah Turia, kamu adalah orang yang hebat karena kamu bisa bangkit dari masa lalu yang menyakitkan itu.

Hal yang kita lakukan adalah mengubah apa yang mengganggu kita dan membina apa yang sungguh diharapkan oleh kita dan orang lain yang paling kita sayangi. Kata-kata itu adalah kata-kata yang Turia baca dan ingat. Kata-kata itu adalah kata-kata P. Adolf Heuken SJ dalam pengantar buku karangan Thomas A. Harris yang berjudul ‘I’m OK – You’re OK’. Mungkin kamu juga bisa membaca buku ini, karena buku tersebut membantu kita menjadi orang yang OKE.

Mungkin pada awalnya, kita mengeluhkan bahwa ‘saya memanglah begini, ga mungkin saya bisa berubah’. Itu adalah keluhan yang tidak bisa dibenarkan. Perlu diingat, bahwa KITA BISA BERUBAH! Kita bisa menjadi orang yang benar-benar merasa OKE. Kita dapat menerima dan mengakui diri kita sendiri sesuai dengan apa adanya. Kita dapat merasa senang dan tenang dengan diri kita itu. Saya senang sekali dengan kata-kata P. Adolf Heuken SJ, jadi saya kutip yah supaya kita sama-sama bisa menjadi orang yang merasa OKE, seperti halnya Turia. Adolf berkata, bahwa mustahil menghapus setiap masa lalu. Satu-satunya yang mungkin ialah: menyadari dan mengetahui pola batin kita itu. Lalu kita bertindak secara dewasa, tanpa mengijinkan reaksi spontan kita terlalu menentukan tindakan kita. Ia juga berkata bahwa perasaan kita mengenai keadaan diri sendiri sangat penting. Harga diri, kebahagiaan dan reaksi terhadap orang lain sangat tergantung dari perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Jika saya tidak merasa senang dengan diri saya sendiri, maka sungguh sukar bagi saya untuk dapat merasa aman dan terbuka terhadap orang lain. Tetapi kalau saya merasa OKE, menerima dan merasa baik dan beres, maka saya jarang merasa iri, merasa minder atau rendah diri. Sebab, saya tidak takut menerima orang lain sebagai OKE juga. Dengan demikian, pergaulan kita dapat berjalan lancar dan menyenangkan. Hanya berkat sikap terbuka dan tanpa prasangka hal itu dimungkinkan.

Kawan, dengan menggambarkan kisah Turia dengan hal-hal yang ia pelajari dan ia baca mungkin menjadi pengalaman dan pembelajaran yang berharga. Jika merasa tidak kuat menahan masa lalu yang menyakitkan, kita tentu saja harus mendekatkan diri pada Tuhan. Curhat dengan-Nya dan dengan orang yang dipercaya jika ingin, serta dibarengi dengan usaha. Percayalah bahwa Tuhan mendengar kita dan mengirimkan perantara untuk kita dalam menghadapi hal yang mengganggu hidup kita itu. Perantara mungkin saja Tuhan berikan, seperti Turia yang menemukan pria yang lebih baik yang kini melamarnya untuk menjadikannya istri. Mengharukan bukan? Turia mendapatkan pria yang baik yang membantunya untuk bangkit menjadi orang yang OKE. Selain pria itu, Turia juga mencari pengetahuan dari buku bacaan dan orang-orang yang dapat ia percaya untuk bisa belajar dari pengalaman.

Kawan, banyak hal yang membuat kita buta akan hal lain. Terbukalah dengan perasaan yang dirasakan. Kebebasan perasaan akan membuka pikiran yang mampu mengantarkan kita pada kehidupan yang luar biasa lebih baik. Perasaan mempengaruhi pikiran dan tindakan kita.

Kawan yang ingin bangkit menjadi orang yang OKE, kamu tidaklah sendiri. Turia adalah salah seorang yang juga kini merasa dirinya OKE melalui proses yang tidak sia-sia.

So, SEMANGAT!!!!!!!!!

Kita adalah manusia yang berharga...yang juga mungkin membuat orang lain ikut merasa berharga...

Selamat menjalani hidup dengan mengenali perasaanmu sendiri...^0^

Senang sekali jika kamu mau berbagi cerita dan memberikan pelajaran yang lebih berharga dengan mengomentari tulisan ini...hehehehe

SEMANGAT!!!

Selasa, 26 Januari 2010

Continue reading...
 

AmOuRe Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice